Senin, 08 Maret 2010

berbicara tentang yang PANJANG panjang ^_^

Ternyata sudah jam ‘sebelas kurang lima menit’. Hitungan yang sederhana. Coba di ubah menjadi jam ‘sepuluh lebih lima puluh lima menit’. Enam suku kata!
Waaaaa…lebih panjang karena penambahan dua suku kata. Tapi jadi tidak terasa enak karena panjangnya. Lhoh…kenapa jadi membahas yang panjang - panjang?

Hehehe…
Haduh jadi lupa mau nulis apa. Ya sudah mari kita mulai. Menulis apa saja yang bisa tertulis.

Ini rasa apa ya…?
Melihat ketidakjujuran. Berpapasan dengan kebohongan. Mungkin bukan hal yang istimewa, apalagi kalau terjadi dalam konteks yang berbeda. Politik misalnya. Stop. It has nothing to do with that Thing.

Jadi sampai mana tadi…
Ya…jika setiap hari melihat dan berpapasan dengannya? Miss K itu. Rasanya seperti apa?

Memang…saya punya kehidupan sendiri. Kehidupan baru yang masih harus terus dijaga, dipelihara supaya tumbuh dengan baik dan membawa hanya kebaikan untuk semua. Tapi mata, telinga dan hati ini gemes rasanya. Btw…telinga kalau gemes seperti apa ya?

Iya…mulai dari mencoba mencari alasan, mencari pembenaran hingga mencari kambing hitam. Budaya yang tidak biasa.

Alasan yang membenarkan tindakannya, yang lalu menggiring pada satu subjek yang kemudian dijadikan kambing yang berwarna hitam itu. Huuuhhh…membingungkan.

What is it all about anyway…?

Tentang satu kejadian (rasanya terlalu berlebihan kalau saya memilih kata ‘fenomena’). Ketika rasa nyaman itu juga ada di seberang sana dan bukan hanya dalam hangatnya yang telah ada. Ketika rasa berbagi itu mulai tumbuh liar tak terkendali hingga rimbunnya menutup indahnya taman yang dulu dicipta bersama. Ketika rasa coklat yang lezat itu ingin dibaginya dengan yang ‘membutuhkan’ versi otaknya.
Rasa nyaman yang seperti apa lagi yang ingin direngkuh gelora nafsu itu? Mau berbagi apa lagi dengan yang tidak di Ridhoi itu? Coklat busuk merk apa yang ditawarkan itu???

Sudahlah…!!!
Nyaman yang membuncah itu nafsu. Hasrat berbagi yang menghentak itu palsu. Dan coklat yang tampak lezat itu semu.

Astaghfirullohaladzim….

An Affair is not ever Fair. (Kalimat yang sama panjangnya dengan yang di atas tadi. Ternyata bener…yang panjang tidak selalu enak)

Semoga Alloh SWT selalu menjaga hati kita dari semua hal yang tidak mendapat Ridho-Nya…
Amiin…

Minggu, 21 Februari 2010

en It's TRUE


Imajiku mewujud nyata. Tidak semua sisi ada, tapi setting, waktu, tokoh, alur dengan ending cerita yang telah dirumuskan, ADA.
Wooow…ada Kay dan Teman itu datang. Sekedar tambahan informasi, Kay adalah tokoh sentral dalam imajiku dan Teman ku adalah sentral yang lain.

Bukan suatu kebetulan karena Sang Penguasa Maha Mengatur segala.

Taman itu. Taman ditepi sungai dengan beberapa pengunjung yang menikmati senja, senda gurau itu dan suara-suara mobil yang turut menjadi backsound dalam rangkaian imajiku benar-benar mendekati SAMA.

Senja itu. Senja yang cerah meski jingga tak lagi tampak meng-angkasa. Mendung absen, pun hujan tak hadir. Tidak begitu padat namun memang lebih ramai dari hari-hari biasa. IYA…! Sore itu adalah hari terakhir bulan Ramadhan 1430 H alias malam takbiran...!
(Silakan membayangkan sendiri bagaimana keadaan jalan raya kala itu)

Dunia nyata jauh lebih indah dari yang maya. Subhanallah…

Sosok itu. Imajiku yang terbang telah melukis Seorang Teman yang satu saat menghampiri tempatku duduk lengkap dengan segala atribut sesuai inginku. Benar-benar egois memang. Aku yang mendandani Teman itu berdasar mauku. Dan yang datang adalah…soooo close…!
Sosok Teman itu benar datang dengan celana jeans belel tiga perempat. Sendal jepit. Kaos oblong (meski bukan Spiderbilt). Sedikit tambahan dalam nyata adalah tas ransel yang tampak menempel dipunggungnya. Gaya berjalan yang tidak berlari namun lebih cepat dari orang berjalan. Dia benar menghampiriku.
YA…! Dia itu Temanku!

Rumah itu. Imajiku melukiskan bahwa inginku adalah membawa Teman itu pulang kerumah Ibu. Rumah yang akan mendapat warna lain dengan hadirnya. Rumah yang akan bertambah suara ceria setelah urun suaranya. Rumah itu yang akan menjadi rumahnya.
Dan aku pun pulang bersama Temanku. Malam itu juga.
Subhanallah…

Ya. Semoga rasa syukur tidak pernah absen dalam diri. Kembali membuka memori berharap semakin menumbuhkan segala rasa segala asa segala doa terbaik untuk semua.

Pasti beribu kisah indah diluar sana. Jika kisah ini hanyalah setitik indah itu, maka tidak akan pernah mengurangi rasa syukur-ku (dan Temanku, aku yakin itu) pada Rabb yang Maha Besar.

Alhamdulillah…kini Kay sudah menemukan seorang Teman.
And here we are…MonKay the 13th.
^_^

Kamis, 21 Januari 2010

Breakfast MENU

Apa sarapanmu pagi ini?

Hmmm...nasi putih hangat, sayurnya sambal goreng kentang, lauknya tempe goreng, minumnya teh hangat. O iya, plus kerupuk.
Ya...seperti itu. Memang tidak selengkap menu restoran. Tidak juga semewah sajian hotel bintang lima. Sambil duduk didepan tivi menikmati sarapan itu. Menonton suguhan informasi pagi yang hampir berisi hal yang sama setiap harinya. Beberapa kasus BESAR yang tengah populer di negara ini. Korupsi. Manipulasi. Krisis. Hingga aksi-aksi seru para anggota dewan dilayar kaca.

Tidak ada yang istimewa dalam sarapan itu. Tapi pernahkah terlintas untuk menikmati menu lain sarapanmu?

Mari kita ganti menunya. Menunya adalah plastik-plastik usang yang telah bercampur dengan tumpukan kertas, daun-daun kering (yang telah kembali basah karena hujan), botol-botol bekas, dan entah apalagi benda yang tertumpuk disana. Tentu saja semua barang itu telah menyatu dengan debu, tanah dan air hujan yang jelas mencipta aroma yang membuat semua orang menutup lubang hidungnya.

Ya.
Tempat pembuangan sampah.

Sebuah kotak buatan dipinggir jalan berukuran kurang lebih satu kali tiga meter yang berisi tumpukan sampah. Ternyata telah beberapa hari melewati tempat itu. Penuh. Sampai-sampai sampah itu berhamburan keluar kotak.
Nenek itu. Kakek itu. Dan dua orang lainnya, mungkin anak-anak mereka, setiap pagi "sarapan" disitu. Dengan alat pengais yang tampaknya terbuat dari besi tua, Si Nenek mencabik-cabik tumpukan sampah itu. Mencoba menemukan sesuatu. Tiga orang lainnya berbuat hal yang sama. Seolah berlomba mengumpulkan benda berharga.
Tubuh dua orang renta tanpa alas kaki berdiri tegak ditengah tumpukan sampah. Satu tangan menggenggam alat pengais satu tangan lainnya memegang kantung tempat hasil temuan mereka. Tentu saja tanpa penutup hidung sama sekali.

Pagi. Setiap pagi. Itulah sarapan mereka setiap pagi.

Iya. Masih banyak kejadian yang lebih luar biasa diluar sana. Terselip harapan dan doa hidup yang lebih baik untuk mereka.

Selasa, 19 Januari 2010

Ternyata...

its been a long time. Kupikir hilang. Ternyata masih ada disini. Mudah-mudahan termemori dikepala sehingga tidak lagi lupa bagaimana cara menggunakannya.

Hmmm...beberapa telah terkumpul ingin dibagi. Rasanya bukan saat ini.

Selasa, 24 Maret 2009

Melukis Menulis

Melukis.

Menggores kuas diatas kanvas. Membiarkannya menari sembari mencipratkan warna - warna dari sabetan sampur-nya. Warna yang diinginkan, yang disukai, yang dibutuhkan. Sangat bisa mencipta satu bentuk lugas tanpa bias. Tapi kadang menggiring mereka menguntit lenggak - lenggok tarian kuas juga tak kalah nikmat. Bahkan terasa lebih.

Ada kalanya warna - warna itu telah lebih dulu terpilih. Namun jika mendadak ada keinginan untuk menitikkan warna baru, warna lain, warna tambahan, akan tetap dilakukan.

Selalu ada hasrat untuk melukis. Tentang suara - suara hati yang nyaring mengalun menembus mega. Tentang teriakan - teriakan lantang jiwa yang terkungkung dipadang gamang. Tentang secuil asa yang senantiasa dijaga untuk menyulut dunia yang dahaga. Tentang ukiran - ukiran senyum yang membuncahkan suka cita semesta.

Betapa rasa puas itu terasa mahal. Kala sesorang memandang lukisan itu, maka semua terbayar. Bahkan baru sekedar memandang. Tapi telah mampu menghadirkan bertumpuk - tumpuk warna lain yang ingin segera digoreskan.

Melukis...
Menulis...

Maka itu sama bagiku. Senangnya bisa melukiskan tulisan...